Agar Engkau Bersujud Kepada-Nya

Posted on Maret 5, 2009. Filed under: Risalah Jum'at |

Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir disaat oran-orang sedang bersujud ke hadirat Allah ‘Azza wa Jalla. Engkau lahir disaat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika manusia sedang menagunggakan asma Allah, engkau lahair di dunia ini nyaris tanpa pertolongan. Tetapi pertolongan siapakah yang lebih baik dari pertolongan Allah? Sesungguhnya, sebaik-baik penolong adalah Allah. Maka kelak, ingat-ingatlah bahwa hanya Allah tempatmu menyembah dan meminta petolongan. Hayatilah setiap engkau membaca”IyyaKa na’Budu wa iyyaKa nasta’in. Hanya kepada-Mu kami meminta dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Sungguh, takada yang kebetulan di dunia ini. Maka ketika kelak engkau mulai bisa memikirkan untuk apa engkau diciptakan, perhatikanlah langkahmu dan renungilah mengapa Allah takdirkan engkau lahir dibulan yang suci; di bulan yang manusia dan para malaikat mengagungkannya; sementara syaithan dibelenngu oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di bulan itu, manusia belajar menahan diri –tak sekedar menahan lapar dan dahaga- agar mereka meraih derajat takwa.

Maka, aku sungguh berharap ini menjadi pelajaran bagimu untuk belajar menahan diri, bukan karena ingin mendapat penilaian manusia, tetapi agar meraih kecintaan Tuhanmu. Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari Allah Yang Maha Menciptakan, hanya demi meraih kecintaan dari mahluk-mahluk-Nya. Sesungguhnya selain Allah adalah fana. Betapa banyak orang yang sudah mengikrarkan cintanya dan tak lama sesudah itu ia mengingkairi ikrarnya sendiri. Betapa banyak orang yang sudah mengaku mencintai saudaranya dengan tulus, padahal yang mereka cintai hanyalah parasnya. Cinta itu awalnya meluap-luap, dan setelah dimakan usia, tak tahu lagi kemana cinta harus dicari. Jika engkau mencari cinta mereka, mungkin mereka akan mengelu-elukanmu ketika ada yang bisa mereka dapatkan darimu. Tetapi sesudah itu, tak ada sedikit pun jaminan bahwa mereka tidak akan meninggalkanmu.

Sungguh, telah banyak berlalu ummat-ummat sebelum kamu. Maka berjalanlah di muka bumi, dan lihatlah kesudahan orang-orang terdahulu. Telah banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras untuk memperoleh tepuk tangan dan decak kagum manusia, tetapi sesudah itu, sebagian diantara mereka terpuruk oleh kesedihannya sendiri, dan sebagian yang lainnnya tersadar sehingga segera berlali kepada Allah.

Alangkah fana anakku. Alangkah fana…maka apakah engkau akan sibuk mengejarnaya?

Sementara apabila engkau meraih kecintaan Tuhanmu, ia akan memaklumkan kecintaan-Nya kepada para malaikat. Lalu para malaikat itu akan memaklumkan kecintaan itu kepada hati manusia, sehingga mereka berbondong datang kepadamu sekalipun engkau bersembunyi di balik goa. Mereka datang kepadamu dengan penuh kecintaan, dan kecintaan itu datang dari Tuhanmu. Mereka akan siap melindungimu dan membantumu, kapan saja. Tetapi jangan engkau keliru menyangka, sehingga menganggap mereka sebagai penolongmu. Tidak. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya tidaklah mereka menjadi penolongmu melainkan karena Allah semata.

Sujudkan jiwamu agar engkau mencapai derajat ihsan, karena engkau senantiasa berada pada situasi seakan-akan engkau melihat Tuhanmu. Dan apabila engkau tidak melihat-Nya, engkau yakin dengan sepenuh hati bahwa Ia mengawasimu. Sujudkan pula harta duniamu, agar tidak pernah menguasai hatimu. Sesungguhnya harta itu letaknya dalam genggamanmu. Bukan pada hatimu. Apabila harta itu engkau letakkan di tanganmu, maka engkau akan ringan hati untuk membelanjakan dijalan-Nya. Tetapi apabila harta itu engkau simpan di dalam hatimu, maka sedikit saja yang berkurang, akan dapat menggelisahkan dirimu sehingga dengan itu justru harta yang sedang mendekat kepadamu, akan berlari sejauh-jauhnya.

Husain anakku…..

Sesungguhnya harta yang kelak menjadi milikmu kelak di Yaumil-Qiyamah adalah yang engkau belanjakan dijalan yang benar. Setiap keping yang engkau sedekahkan, ia akan tetap menjadi pembelamu di hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah semata. Setiap keping yang engkau belanjakan untuk keluargamu, untuk anak-anak yatim, untuk jihad fii sabilillah, untuk amar makruf nahy mungkar, untuk mengongkosi perjalananmu melakukan kebaikan, maka ia tetap menjadi milikmu dan senantiasa berlipat kebaikannya hingga engkau berjumpa dihari akhir kelak. Ia akan mengantarmu ke surga atas perkenan-Nya. Insya-Allah.

Tetapi nak…..

Karena sekeping uang pula manusia bisa terhalang dari Tuhannya. Tidaklah disebut pendusta agama orang yang pendek-pendek do’anya dan ringkas shalatnya. Tidak. Tetapi tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Maka, kecelakaan lah bagi orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Begitu peringatan Tuhanmu dalam surat Al-Maa’uun. Kelak engkau bisa membacanya dalam Al-Qur’an. Hanya do’a yang kupinta apa yang kuharapkan dengan pesan-pesan ini.

Anakku?

Aku sayangi dirimu sejak engkau belum dilahirkan; Aku tunggui persalinan ibumu hingga terdengar tangismu; Aku bersihkan darah yang mengiringi kelahiranmu dengan tanganku sendiri; Aku temani masa-masa bayimu dengan membacakan do’a ditelingamu; Aku ciumi dirimu sebagaimana Rasulullah saw. Mengajarkannya; Dan kalau nanti engkau beranjak besar, lalu kutulis pesan ini, tidak lain hanyalah berharap engkau kelak menjadi orang shalih yang memberi bobot kepada bumi ini dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Betapa pun bapak dan ibumu hanya dua orang yang lemah imannya, lemah ilmunya dan lemah jiwanya. Tidak ada kekuatan kecuali semata-mata dari Allah.

Besarnya pengharapan inilah yang menjadi kekuatan bapak ibumu dalam mengasuh dan membesarkanmu. Kalau kemudian engkau menjadi anak shalih –dan bapak ibumu senantiasa berharap dengan penuh kesungguhan- maka tidak ada yang lebih berharga untuk diharapkan darimu melebihi do’a-do’a yang engkau panjatkan dengan tulus kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi kedua orang tuamu ini. Harapan inilah yang membuat bapak ibumu bersedia mengorbankan apa saja, termasuk kesehatan, asalkan engkau termasuk diantara shalihun yad’ulah. Anak shalih yang mendoakan.

Inilah yang senantiasa merisaukan orang tuamu, Anakku, bagaimana mengantarkan engkau menjadi waladun yad’ulah. Jika engkau termasuk anak yang shalih, maka setiap perbuatanmu dapat menjadi kebaikan bagi orangtua mu. Dan jika engkau mendo’a kan bapak ibumu, maka Allah akan membukakan pintu-pintu kebaikan. Kebaikan itu akan terus mengalir apabila engkau mendoakan, sekalipun bapak ibumu telah berselimut kain kafan.

Tetapi sekedar mendo’akan ,Anakku…tanpa ada ke shalihan yang mengiring do’a-do’a itu, rasanya akan sia-sia. Sebab seperti yang engkau baca, anak-anak yang bisa menambah catatan kebaikan bagi kedua orangtuanya sesudah kematian menjemputnya adalah anak-anak shalih yang mendo’akan. Ini berarti engkau harus menjadi manusia shalih ketika mendo’akan. Tanpa keshalihan, do’a itu akan melayang begitu saja. Apalagi do’a itu bukan engkau sendiri yang mengucapkan. Dan betapa kulihat, di kala seorang anak Adam meninggal dunia, para tetangga mendo’akan si mati, sementara anak-anaknya mengaminkan pun tidak. Mereka menyibukkan diri dengan makanan yang dihidangkan. Sungguh, sesuatu yang absurd. Lebih-lebih diantara para pendo’a itu terkadang ada yang menjadi ahli maksiat. Wallahu a’lam bishawab. [www.hidayatullah.com]

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: